Al-Irsyad Al-Islamiyyah Karawang

Jl. RH. Djaja Abdullah No. 2 (Belakang KPPN), Kertabumi - Karawang

Menghasilkan Generasi Rabbani yang Unggul dan Berdaya Saing

MENGENAL HAKIKAT PUASA (Bagian 3)

Rabu, 23 Mei 2018 ~ Oleh Admin ~ Dilihat 594 Kali

(Oleh R. Ismail Prawira Kusuma M. E. I.,)
 
3. al-Ju’u
 
Hakikat puasa yang ketiga adalah Al-Ju’u, artinya lapar. 
 
Tentunya ini bukan hal yang aneh bagi kita. Yang namanya puasa pasti lapar. Sebabnya pun sudah jelas; karena perut kita kosong. 
 
Akan tetapi, puasa yang hakiki bukan hanya lapar dengan mengosongkan perut dari makanan dan minuman. Ada lapar jenis lain yang harus dihadirkan oleh pelaku puasa, agar puasanya tidak sia-sia, yaitu dengan mengosongkan hatinya dari selain Allah. 
 
Jika dalam hati masih tersimpan segala sesuatu selain Allah, maka orang itu belum dikatakan berpuasa secara hakiki, meskipun ia menderita karena menahan lapar dan haus. Kondisi orang ini persis seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Berapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan haus.” (HR Tirmidzi)
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling kuat menahan derita lapar. Sering kali beliau terlihat mengganjal perutnya yang terlampau kosong dengan batu. Namun beliau tak pernah mengeluhkan kondisi itu. Ia masih selalu tampak cerah dan tersenyum seolah tak ada masalah. 
 
Mengapa begitu? Sebab, beliau bukan hanya mampu mengosongkan perutnya, tapi telah sanggup secara sempurna mengosongkan hatinya dari selain Allah. 
Hati yang kosong dari selain Allah berarti penuh dengan Allah. Dan hati yang sudah penuh dengan Allah adalah hati yang sudah kenyang dan terpuaskan; tidak lagi butuh kepada yang lain. Hati seperti ini lebih luas dari alam semesta, sehingga kesulitan sebesar apapun tak akan jadi masalah besar, apalagi hanya menahan lapar. 
 
Berbeda dengan orang kebanyakan yang hatinya dipenuhi dengan selain Allah. Makin banyak diisi, justru makin kekurangan. Sebab, segala sesuatu selain Allah tidak akan pernah mengenyangkan. 
 
Hati yang diisi dengan harta; makin banyak kekayaan, justru makin merasa kurang dan makin khawatir dengan kemiskinan. 
Hati yang diisi dengan syahwat; semakin diturut justru makin menuntut. 
Hati yang diisi dengan jabatan; makin tinggi jabatan justru makin haus akan kekuasaan, dan makin takut kehilangan.
 
Demikianlah orang itu tersiksa dengan keinginannnya yang tak pernah terpuaskan. Ia selalu lapar dan haus. Sebab segala sesuatu selain Allah tidak akan pernah mengenyangkan. Ibarat minum air laut, makin diminum makin menambah haus. 
 
Perbedaan orang yang menginginkan Allah dengan menghendaki selain-Nya juga Nampak dalam cara pandang mereka terhadap kehidupan ini. 
 
Yang menginginkan Allah akan sangat panjang dan luas pandangannya. Dalam menghadapi masalah,  ia tak cepat jenuh dan tak mudah mengeluh; sebab ia berorientasi pada akhirat. 
 
Sedangkan mereka yang lebih menghendaki selain Allah, maka pandangannya sempit dan terbatas. Walau masalah yang dihadapi tak seberapa, tapi mereka sering merasa lelah dan gampang putus asa. Sebab, orientasi mereka hanyalah kenikmatan yang sementara. 
 
Terhadap kedua golongan ini, Allah Ta’ala pun memberikan penilaian dan penghargaan yang jauh berbeda. 
 
Mereka yang menginginkan akhirat, berarti menginginkan Allah. Mereka inilah orang yang pintar, karena ketika mereka memperoleh Allah, maka sesungguhnya mereka telah mendapatkan segala-galanya… Karena segala-galanya adalah milik Allah…
Sebaliknya, mereka yang menginginkan dunia, berarti menginginkan segala sesuatu selain Allah… Mereka mungkin memperoleh apa yang diinginkannya, tapi sesungguhnya mereka tidak memperoleh apa-apa, karena mereka kehilangan Allah…
 
 
Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS Asy-Syura: 20)
 
Maka, beruntunglah orang-orang yang berpuasa dengan mengosongkan hatinya dari selain Allah, karena Allah telah menyelamatkan mereka dari kelaparan. Mereka akan terus kenyang dan merasa puas. Bukan dengan makanan dan minuman, tapi dengan kehadiran Allah dalam hati mereka….
 
“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS Quraisy: 3-4)
 
(In sya Allah masih berlanjut…)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Ali Rahmat

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ…

Selengkapnya