Al-Irsyad Al-Islamiyyah Karawang

Jl. RH. Djaja Abdullah No. 2 (Belakang KPPN), Kertabumi - Karawang

Menjadi Lembaga Dakwah Pendidikan Terdepan Dalam Akhlak & Prestasi Serta Menjadi Teladan Bagi Lembaga Lain

PERSIAPAN SEBELUM PENYESALAN 

Rabu, 22 Januari 2020 ~ Oleh Admin ~ Dilihat 335 Kali

PERSIAPAN SEBELUM PENYESALAN 

Oleh :Rahmat Hidayat, S.pd

Walas IX Baghdad SMPIT Al Irsyad Karawang

 

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim )

Jika seseorang sudah berada dialam kematian, maka semua harapan, keinginan, hanyalah tinggal ratapan yang menjadi angan. Seorang muslim hendaklah memperbanyak amalan kebaikan sebelum ia meninggalkan kehidupan dunia. Karena begitu banyak seseorang yang menyesal ketika di dunia tidak memanfatkan waktu dengan baik. Namun, Allah yang Maha baik, masih memberikan kesempatan kepada seorang hamba untuk bisa menikmati pahala yang diberikan Allah atas amalan yang sudah dilakukan walaupun dia sudah tidak hidup di dunia. amalan sedekah jariyah, memberikan hal yang bermanfaat kepada orang lain, seperti membangun masjid, ilmu yang bermanfaat yang ia ajarkan pada orang lain dan mereka terus amalkan, dan anak sholih yang mendoakan orang tuanya.

Segala kenikmatan yang diberikan pada hamba akan ditanyakan, apakah telah disyukuri, atau dikufuri. Betapa banyak orang yang diberi nikmat oleh Allah, namun sayangnya nikmat tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik. Nikmat sehat hanya dibiarkan lewat, harta hanya sebagai ajang pamer belaka, nikmat keturunan terkalahkan hanya dengan perasaan kasihan.

Anak, merupakan karunia Allah yang sangat besar, baik dari segi kenikmatan, maupun pertanggung jawaban. Anak, yang harus kita syukuri dengan cara memberikan nafkah kehidupan, pendidikan, dan pengajaran sebagai investasi bekal nanti di akhirat sebagai pertanggung jawaban. Oleh karena itu, Islam amat mendorong seseorang untuk memperhatikan pendidikan anak-anak mereka dalam hal agama, sehingga nantinya anak tersebut tumbuh menjadi anak sholeh. Lalu anak tersebut menjadi sebab, orang tua masih mendapatkan pahala meskipun orang tuanya sudah meninggal dunia. Kelak di hari kiamat, seorang hamba akan terheran-heran, mengapa bisa dia meraih derajat yang tinggi padahal dirinya merasa amalan yang dia lakukan dahulu di dunia tidaklah seberapa, namun hal itu pun akhirnya diketahui bahwa derajat tinggi yang diperolehnya tidak lain dikarenakan do’a ampunan yang dipanjatkan oleh sang anak untuk dirinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَك

“Sesunguhnya Allah ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku? Maka Allah menjawab, “Hal itu dikarenakan do’a yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni.” (HR. Ahmad dan Hasan).

Begitu banyak orang tua yang menyesal di akhir hayat, meninggalkan harta yang sudah tak berguna, teman yang tidak bisa di andalkan, terlebih meninggalkan keturunan yang tidak bisa meneruskan perjuangannya dan mendoakannya. Maka, kita yang masih diberikan kesempatanm untuk bisa mensyukuri nikmat dan karunia keturunan, berikan nafkah kehidupan, pendidikan, dan pengajaran yang baik. Agar kelak ketika kita sudah tiada, tiada penyesalan, kita kembali pada-Nya dengan kebahagiaan, terlebih pahala akan terus mengalir pada kita dari doa yang selalu dipanjatkan anak-anak kita.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Ali Rahmat

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ…

Selengkapnya