Al-Irsyad Al-Islamiyyah Karawang

Jl. RH. Djaja Abdullah No. 2 (Belakang KPPN), Kertabumi - Karawang

Menghasilkan Generasi Rabbani yang Unggul dan Berdaya Saing

Olimpiade untuk Daus

Rabu, 19 Juli 2017 ~ Oleh Admin ~ Dilihat 1399 Kali

Pagi ini cuaca sedang mendung, gemercik gerimis dari semalam menyisakan rasa dingin yang menusuk tulang. Semilir angin yang menerpa pepohonan membuat siapa saja ingin kembali ke bawah selimut, melanjutkan mimpi yang belum usai. Termasuk Daus, suasana tersebut menjadikan ia malas berangkat ke sekolah. “Us… Us… Bangun… Sudah Siang… ayo sekolah” teriakan ibunya membuatnya bergegas mempersiapkan diri sambil menjawab panggilan ibunya “iya mah…”. Semangat Daus dalam menimba ilmu biasa saja bahkan tergolong malas, terkadang ia pura-pura sakit untuk membuat alasan tidak bersekolah. Karena itu hampir setiap ulangan ia mendapat nilai merah, bahkan pernah orangtuanya dipanggil ke sekolah untuk menghadap guru.

Sekolah Daus berada di wilayah perbukitan dan dikelilingi persawahan yang terhampar hijau layaknya permadani. Sedangkan akses jalan utamanya masih berupa bebatuan, jalan tersebut merupakan proyek pemerintah untuk perbaikan infrastuktur di desanya. Jarak sekolah dari rumahnya tidak terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 15 menit. Daus kali ini melewati jalan berbeda menuju ke sekolah karena ia malu membawa payung besar berwarna merah muda yang disiapkan ibunya, ia berjalan menapaki pematang sawah dan melewati batas antar desa sambil sesekali melihat pemandangan yang masih asri di ujung desa. Ketika ia menginjakan kaki pada jalan berbatu tanpa sadar kakinya terpeleset sehingga ia terpental dan kepalanya terbentur batu, “Kedebuk” terdengar suara hantaman yang cukup keras. Warga sekitar yang melihat kejadian tersebut langsung membantu Daus dan membopongnya ke tempat berteduh.

Ada secercah cahaya yang terlihat, remang-remang tapi semakin jelas. Daus melihat wajah kedua orangtuanya dengan jelas setelah cukup lama ia memejamkan mata. Ia masih merasa nyeri dibagian kepala. Namun, entah mengapa dia merasa ada yang berbeda, serasa ia akan menghadapi kehidupan yang baru. Keadaan disekelilingnya seakan melambat bahkan berhenti sejenak untuk membisikan rahasia-rahasia yang dikandungnya, layaknya cerita Lucy yang mampu menggunakan 100% kemampuan otaknya dan memahami fenomena-fenomena alam. Kali ini ia mampu mengingat semua pelajaran sekolah dan membayangkan setiap detil masa lalu yang pernah ia alami. Ia mengingat saat-saat ia duduk di kelas IV SD dimana ia dihukum oleh guru karena tidak hafal perkalian. “Ah ada apa denganku” celotehnya dalam hati ketika ia merasakan hal yang aneh terjadi dalam dirinya. “Mungkin lama kelamaan juga hilang” lagi-lagi ia berbicara sendiri, namun keadaan tersebut terus berlangsung hingga kejadian yang tidak ia bayangkan terjadi di sekolah.

Kali ini ia bergegas pergi ke perpustakaan tanpa memperdulikan teman-temannya yang makan risol isi sosis dengan lahapnya di pojokan kantin sekolah. Jajanan tersebut adalah kesukaannya saat pertama ia masuk SD, tetapi hari ini Daus mencampakkannya begitu saja. Ia teringat akan sebuah buku tebal yang membuatnya penasaran setengah mati, buku itu merupakan satu dari beberapa tumpukan buku baru pemberian sebuah LSM nasional yang sudah dipenuhi dengan debu hasil pengendapan berbulan-bulan. Masih lekat dalam ingatannya saat sebuah mobil box dengan plat ibu kota masuk ke halaman sekolah membawa kardus-kardus berisi buku. Seperti bongkahan batu besar, Ia mengambil buku hijau tua kemudian membaca satu persatu halaman demi halaman. Tanpa mengalami kesulitan ia menamatkannya dalam waktu singkat. Buku tersebut adalah buku olimpiade matematika setebal 300 halaman, soal-soal latihan yang ada dalam buku tersebut dapat ia selesaikan dengan mudah. Entah dari mana datangnya kemampuan yang ia miliki tersebut, setiap pembahasan dan ilustrasi dari soal terbayang jelas bak gambar 3D yang hidup dan bergerak di atas kertas dalam pikirannya. Hal yang sama terjadi saat ulangan dimana ia mendapatkan nilai sempurna 100 untuk setiap mata pelajaran, kini Daus menjadi buah bibir diantara guru-guru. Tak terlewat satu haripun ia jadi bahan perbincangan hangat menemani obrolan pagi di kantor ditemani secangkir teh manis yang mendingin karena asiknya memperbincangkan Daus.

Langkah Daus seketika terhenti ketika melihat namanya terpajang pada mading sekolah sebagai peserta olimpiade. Kebetulan olimpiade tahun ini diadakan di kota tetangga pada satu-satunya universitas ternama disana. Ia terheran sekaligus bahagia karena lewat olimpiadelah ia bisa mencium bau kota dimana tidak semua anak seusianya mendapatkan kesempatan ini. Mau tidak mau ia harus ikut serta, ia mempersiapkannya dengan sunggung-sungguh, belajar, belajar dan belajar. Daus tidak mengalami kesulitan mengingat kemampuannya saat ini, dengan lahapnya ia membaca buku-buku yang ia pinjam di perpustakaan sekolah. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba, ia diantarkan oleh sekolah menggunakan mobil L300 sewaan yang sengaja dipersiapkan jauh-jauh hari. Berangkatlah Daus saat senja masih diufuk, perjalan kali ini menyisakan kerinduan akan tempat yang belum pernah ia singgahi. Sambil melihat padang ilalang lewat kaca jendela ia membayangkan mengerjakan soal pada secarik kertas putih bersih, namun tiba-tiba “ckrikkk….” Suara keras rem mobil membangunkan lamunan Daus. “waduh gawat jembatan di depan ambruk karena longsor semalam” celetuk mang Wawang supir mobil paruh baya yang sengaja memelihara janggutnya. Setelah menunggu agak lama akhirnya mobil L300 dengan ekstra hati-hati berhasil melewati jembatan kayu sederhana. Tidak sampai disitu, perjalan Daus kini terhambat karena ban mobil tunggangannya bocor setelah menembus sebuah paku di jalan. Dengan sigap mang Wawang mengganti ban yang bocor dan celakanya waktu menunjukan pukul 9.35 pagi, padahal olimpiade mulai pukul 10.00. Hati Daus seketika itu berkecamuk tidak karuan, dengan perasaan tidak nyaman dan kecemasan yang luar biasa ia berbicara ke mang Wawang “Mang bisa lebih cepat enggak, bentar lagi mau mulai”. Mang Wawang melajukan L300 merah kesayangannya dengan kecepatan penuh hingga akhirnya ia sampai di gerbang Kota pada pukul 10.45. “Tiiit… tiit….tiit…” suara klakson bersahutan diantara kendaraan yang menuju pusat kota, rupanya di depan ada perbaikan jalan sehingga laju kendaraan menjadi terhambat. Sekilas dikejauhan ia melihat nama Universitas yang menjadi tempat olimpiade pada sebuah gedung besar memanggilnya, tanpa pikir panjang ia pamit ke mang Wawang untuk keluar mobil dan meneruskan perjalanan dengan berlari. Ia berlari sekuat tenaga sampai tidak memperdulikan keadaan disekelilingya, sampai ia merasa sangat jauh dengan gedung yang ia tuju olimpiade yang ia nanti.  Sampai akhirnya ia kepayahan dan hanya bisa meraih gedung itu dengan pandangan sayunya, tak lama ia merasakan sesak napas dan kepalanya berputar tujuh keliling sampai akhirnya ia tak sadarkan diri.

Saat Daus tak sadarkan diri ia melihat sebuah lubang yang menarik dirinya dengan cepat ke dalam lubang tersebut. Sambil berputar-putar iapun berteriak dengan sekuat tenaga “aaa……….” dan akhirnya matanya terbuka, ia melihat keadaan sekeliling kamarnya yang tersusun rapi. Perlahan namun pasti pada keadaan antara theta dan beta ini ia mengumpulkan semua ‘nyawa’ yang berhamburan dari segala penjuru kamar mungilnya. Kedua orangtuanya datang setelah mendengar teriakannya, Daus merasa sedih karena ia gagal mengikuti olimpiade. Sambil meneteskan air mata ia meminta maaf kepada orangtuanya dan menanyakan “gimana olimpiadenya nya mah?”, seketika itu kedua orangtuanya tersenyum dan bilang “nak kamu baru sadarkan diri sejak pagi tadi pingsan di sawah”.

  1. TULISAN TERKAIT
...

Ali Rahmat

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ…

Selengkapnya